Ya Allah!
{Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta
pada-Nya. Setiap waktu
Dia dalam kesibukan.}
(QS. Ar-Rahman:
29)
Ketika laut bergemuruh,
ombak menggunung, dan angin bertiup
kencang menerjang, semua penumpang
kapal akan panik dan menyeru: "Ya Allah!"
Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan
menyimpang jauh dari jalurnya,
dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya,
mereka akan menyeru: "Ya Allah!"
Ketika musibah menimpa,
bencana melanda, dan tragedi terjadi,
mereka yang tertimpa akan selalu berseru: "Ya Allah!"
Ketika pintu-pint u
permintaa n
telah tertutup , da n tabir-tabir
permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: "Ya Allah!"
Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua
jalan pintas membuntu, mereka
pun
menyeru: "Ya Allah!"
Ketika bumi terasa menyempit
dikarenakan himpitan persoalan hidup,
dan
jiwa serasa tertekan
oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul,
menyerulah:"Ya Allah!"
Kuingat Engkau saat alam
begitu gelap
gulita, dan
wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut nama-Mu
dengan lantang di saat fajar menjelang, dan fajar pun merekah seraya
menebar senyuman indah
Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur,
air mata yang
menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan
ke hadirat-Nya.
Setiap dini hari
menjelang, tengadahkan kedua
telapak tangan,
julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan
matamu ke arah-
Nya
untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya
untuk
menyebut, mengingat
dan berdzikir dengan nama-Nya.
Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf
tak
lagi menegang, dan iman
kembali berkobar-kobar. Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-Nya,
keyakinan akan semakin kokoh. Karena,
{Allah Maha Lembut terhadap
hamba-hamba-Nya.}
(QS. Asy-Syura: 19)
Allah: nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah,
ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga.
{Apakah kamu tahu
ada seseorang yang sama
dengan
Dia
(yang patut disembah)?}
(QS. Maryam: 65)
Allah: milik-Nya semua
kekayaan, keabadian, kekuatan,
pertolongan, kemuliaan,
kemampuan, dan hikmah.
{Milik siapakah
kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha
Mengalahkan.}
(QS. Ghafir: 16)
Allah: dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan,
cinta dan kebaikan.
{Dan, apa saja
nikmat
yang ada pada kamu,
maka dari Allah-lab. (datangnya).}
(QS. An-Nahl: 53)
Allah
:
pemilik segala keagungan ,
kemuliaan ,
kekuata n
da n keperkasaan.
Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang
semua makna,
akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku
Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan
kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi
rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan,
dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.
Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk
dari-Mu yang menentramkan. Tuangkan dalam jiwa yang bergolak
ini
kedamaian. Dan, ganjarlah
dengan kemenangan yang nyata. Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu.
Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke
arah jalan-Mu
yang lurus. Dan
tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-
Mu.
Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar
yang
pasti datang dan
memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan
bala tentara-Mu.
Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka,
dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.
2 La
Tahzan
Kami berlindung
kepada-Mu dari setiap rasa
takut yang mendera.
Hanya
kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami
memohon, dan hanya dari-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami,
karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan
Penolong.
Pikirkan dan Syukurilah!
Artinya, ingatlah
setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda.
Karena Dia telah melipatkan
nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.
{Jika kamu menghitung nikmat
Allah, niscaya kamu tidak
akan sanggup menghitungnya.}
(QS. Ibrahim: 34)
Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air,
semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, Anda memiliki
dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan,
tetapi tak pernah mengetahuinya.
{Dan,
Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu
lahir dan batin.}
(QS. Luqman:
20)
Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua
kaki.
{Maka
nikmat Rabb kamu
yang manakah yang kamu dustakan?}
(QS. Ar-Rahman: 13)
Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu
yang sepele, sedang kaki acapkali
menjadi
bengkak bila digunakan jalan
terus menerus tiada henti?
Apakah Anda mengira
bahwa berdiri tegak di
atas
kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya
bisa saja tidak
kuat
dan suatu ketika patah?
Maka sadarilah,
betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar Anda masih banyak yang tidak
bisa tidur karena
sakit yang mengganggunya? Pernahkah Anda merasa nista manakala dapat
menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di
sekitar Anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan
Anda
dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata Anda
yang
tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari
penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak
Anda
yang selalu sehat dan terhindar
dari kegilaan yang menghinakan.
Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar
gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah
Anda
mau membeli istana-istana yang menjulang
tinggi dengan lidah Anda,
hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan
untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung?
Begitulah, sebenarnya Anda
berada dalam kenikmatan tiada tara dan
kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak
menyadarinya. Anda tetap merasa
resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun Anda masih mempunyai
nasi hangat untuk disantap,
air segar untuk diteguk, waktu
yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
Anda acapkali
memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya
karena kerugian materi yang mendera.
Padahal, sesungguhnya Anda masih
memegang kunci kebahagiaan, memiliki
jembatan pengantar kebahagian,
karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka
pikirkan semua itu, dan
kemudian syukurilah!
{Dan,
pada dirimu sendiri.
Maka, apakah kamu tidak memperhatikan.}
(QS. Adz-Dzariyat: 21)
Pikirkan dan renungkan
apa yang ada pada diri, keluarga, rumah,
pekerjaan, kesehatan, dan apa saja
yang tersedia di sekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan
{Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian
mereka mengingkarinya.}
(QS. An-Nahl:
83)
Yang Lalu Biar Berlalu
Mengingat dan mengenang
masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa
dan
kegagalan didalamnya merupakan tindakan
bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan
membunuh semangat, memupuskan
tekad dan mengubur
masa depan yang belum terjadi.
4 La
Tahzan
Bagi orang yang berpikir,
berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam
'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara'
pengacuhan selamanya.
Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus
cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi,
keresahan tak akan sanggup
memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya
menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan
diri Anda dari bayangan masa lalu!
Apakah And a ingin mengembalikan air
sungai ke hulu,
matahari
ke tempatnya terbit,
seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah,
keterikatan
Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya,
keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda
pada
pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan,
dan
sekaligus menakutkan.
Membaca kembali lembaran
masa lalu hanya akan memupuskan masa
depan, mengendurkan semangat,
dan menyia-nyiakan waktu yang
sangat berharga. Dalam al-Qur'an,
setiap kali usai menerangkan kondisi
suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan,
"Itu adalah umat yang lalu." Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai
pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman
dan
memutar kembali roda sejarah.
Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang
menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.
Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian: "Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya." Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang,
sekawanan binatang sering bertanya
kepada seekor keledai begini, "Mengapa
engkau tidak menarik gerobak?"
"Aku benci khayalan," jawab keledai.
Adalah bencana besar, manakala
kita rela mengabaikan masa depan
dan
justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu,
sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing- puing yang telah lapuk.
Padahal,
betapapun seluruh manusia dan jin bersatu
untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu,
niscaya
mereka tidak akan perna h mampu. Sebab,
yang demikian itu
sudah mustahil pada asalnya.
Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melibat dan
sedikitpun menoleh ke belakang.
Pasalnya, angin akan selalu berhembus
ke depan, air
akan mengalir ke depan, setiap kafilah
akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah
pernah melawan sunah
kehidupan!
Hari Ini Milik Anda
Jika kamu
berada di pagi hari, janganlah
menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani,
bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum
tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya
menyapa Anda inilah hari Anda.
Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah
masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan
Anda
dllahirkan hari ini dan akan
mati
hari ini juga. Dengan
begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik
diantara gumpalan keresahan,
kesedihan
dan duka masa
lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali
menakutkan.
Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh
perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, Anda harus
bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu', bacaan al-Qur'an
yang
sarat tadabbur, dzikir
dengan sepenuh hati,
keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah
berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian
terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.
Pada hari dimana Anda hidup saat inilah sebaiknya
Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap
menitnya laksana ribuan tahun dan
setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-
banyaknya pada hari itu. Dan,
persembahkanlah sesuatu yang paling indah
untuk hari itu.
Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-
Nya,
bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan
menuju alam keabadian,
dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan
dan kebahagiaan! Terimalah rezeki,
isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari dengan penuh keridhaan.
6 La
Tahzan
{Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan
kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.}
(QS. Al-A'raf: 144)
Hiduplah hari ini tanpa kesedihan,
kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.
Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu
kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja
kerja Anda): Harimu
adalah hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan
nasi hangat yang harum
baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi
hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan
Anda?
Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa
And
a harus bersedih
atas air
asin yang And a
minum kemarin, atau
mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?
Jika Anda percaya
pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat Anda,
maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada
prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip
inilah yang akan menyibukkan
diri Anda setiap detik
untuk selalu memperbaiki
keadaan, mengembangkan
semua potensi, dan mensucikan setiap amalan.
Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, "Hanya hari ini
aku
berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap
kotor
dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik
da
n juga
membicarakan kejelekan orang
lain. Hanya
hari ini
aku berkesempatan
menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan
berantakan. Dan karena
hanya
ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur
kata
dan tindak tandukku."
Karena hanya akan
hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat
tenaga untuk taat kepada Rabb,
mengerjakan shalat sesempurna
mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada
al-Qur'an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.
Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya
aku akan menanam
dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya
pohon-pohon kejahatan
berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub,
riya', dan
buruk sangka.
Hanya hari ini aku akan dapat menghirup
udara kehidupan, maka
aku
akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan
tangan kepada siapapun.
Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah,
menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang
kelaparan, menolong orang
yang sedang kesulitan,
membantu yang orang dizalimi, meringankan
penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka
yang menderita, menghormati
orang-orang alim, menyayangi anak kecil,
dan berbakti kepada orang tua.
Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, "Wahai masa lalu yang telah
berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah
melihatku termenung sedetik
pun untuk mengingatmu. Kamu telah
meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi."
"Wahai masa depan, engkau
masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak
akan
pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah
dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang
belum tentu ada, karena esok
hari
mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan."
"Hari ini milik Anda",
adalah ungkapan yang paling indah dalam
"kamus kebahagiaan". Kamus bagi mereka yang menginginkan
kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.
Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
{Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.}
(QS. An-Nahl: 1)
Jangan pernah mendahului
sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda
mau
mengeluarkan kandungan sebelum
waktunya dlkAhirkan, atau memetik
buah-buahan sebelum masak?
Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud,
dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok,
mencemaskan kesialan-kesialan yang
mungkin akan
terjadi padanya,
memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan
bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak,
dan apakah hari esok
kita itu akan berwujud
kesenangan atau kesedihan?
Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke
bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum
sampai di atasnya. Sebab, siapa
yang
tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti
jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula
jembatan itu hanyut terbawa
arus terlebih dahulu sebelum
kita sampai di atasnya.
Dan bisa jadi pula,
kita
akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.
Dalam syariat, memberi
kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan
masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian
terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak
dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thulul
amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan
itu
pun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan
bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan
manusia di dunia ini
justru banyak yang termakan
oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan,
kemiskinan, wabah penyakit dan krmjekonomi
yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah
bagian dari kurikulum
yang diajarkan di "sekolah-sekolah setan".
{Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat
kejahatan (kikir), sedang
Allah menjanjikan untukmu
ampunan daripada-Nya dan karunia.}
(QS. Al-Baqarah:
268)
Mereka yang menangis sedih
menatap
masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita
sakit
selama setahun, dan
memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya
berada di 'genggaman yang
lain' tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada.
Dan
orang yang tidak tahu kapan akan mati,
tentu salah besar
bila
justru menyibukkan diri dengan sesuatu
yang belum ada dan tak berwujud.
Biarkan hari esok
itu datang dengan
sendirinya. Jangan pernah
menanyakan kabar beritanya,
dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini Anda sudah sangat sibuk.
Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang
yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di
dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-
angan yang berlebihan.
Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas
Sang Pencipta
dan Pemberi rezeki Yang Maha
Mulia, acapkali
mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang
pandir yang tak berakal. Maka, apalagi saya, Anda dan kita sebagai manusia
yang
selalu terpeleset dan salah.
Dalam hidup ini,
terutama
jika Anda seseorang yang selalu
memberi, memperbaiki, mempengaruhi
dan berusaha membangun, maka
Anda akan selalu
menjumpai
kritikan-kritikan yang pedas
dan pahit.
Mungkin pula, sesekali Anda akan mendapat cemoohan
dan
hinaan dari orang lain.
Dan mereka, tidak akan pernah diam mengkritik Anda sebelum
Anda
masuk ke dalam liang bumi, menaiki tangga ke langit, dan
berpisah dengan mereka. Adapun bila
Anda
masih berada di tengah-tengah mereka,
maka
akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat Anda bersedih
dan
meneteskan air mata, atau membuat tempat tidur
Anda
selalu terasa gerah.
Perlu diingat, orang yang duduk di atas tanah tak akan pernah
jatuh, dan manusia tidak akan pernah menendang
anjing yang sudah mati. Adapun
mereka, marah dan kesal kepada Anda
adalah karena mungkin Anda
mengungguli mereka dalam hal kebaikan,
keilmuan, tindak tanduk, atau
harta. Jelasnya, Anda di mata mereka adalah orang berdosa yang tak
terampuni sampai Anda melepaskan
semua karunia dan nikmat Allah yang
pada
diri Anda, atau sampai
Anda
meninggalkan semua sifat terpuji
dan nilai-nilai luhur yang selama ini Anda pegang teguh. Dan menjadi orang yang
bodoh, pandir dan tolol adalah yang mereka inginkan
dari diri Anda.
Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan.
Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan,
cemoohan dan hinaan mereka.
Bersikaplah laksana batu cadas; tetap kokoh
berdiri meski diterpa butiran- butiran salju yang menderanya setiap saat, dan ia justru semakin kokoh karenanya. Artinya, jika Anda merasa
terusik dan terpengaruh oleh kritikan
atau
cemoohan mereka, berarti Anda telah meluluskan keinginan mereka
untuk mengotori dan mencemarkan kehidupan Anda. Padahal, yang terbaik
adalah menjawab atau merespon
kritikan mereka dengan menunjukkan
akhlak yang baik. Acuhkan saja mereka, dan jangan pernah merasa tertekan
oleh
setiap upadaya mereka untuk menjatuhkan Anda.
Sebab,
kritikan mereka yang menyakitkan
itu pada hakekatnya
merupakan ungkapan
penghormatan untuk Anda. Yakni, semakin tinggi derajat dan posisi
yang Anda duduki, maka akan semakin pedas pula kritikan itu.
Betapapun, Anda akan kesulitan
membungkam mulut mereka dan
menahan gerakan lidah mereka. Yang Anda mampu adalah
hanya mengubur dalam-dalam setiap kritikan mereka, mengabaikan solah polah mereka pada
Anda,
dan cukup mengomentari setiap perkataan
mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah,
{Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu."}
(QS. Ali 'Imran: 119)
Bahkan, And a juga
dapat
'menyumpal' mulut mereka
dengan
'potongan-potonga
n daging' agar
diam
seribu bahasa
denga n
cara memperbanyak keutamaan, memperbaiki akhlak, dan meluruskan setiap
kesalahan Anda. Dan bila Anda ingin diterima
oleh semua pihak, dicintai
semua
orang, dan terhindar dari cela, berarti Anda telah menginginkan sesuatu yang mustahii terjadi dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh
untuk diwujudkan.
Jangan Mengharap "Terima Kasih "
dari Seseorang
Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan
Dia
menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan-Nya
agar mereka bersyukur kepada-Nya.
Namun ,
mereka justru banyak
yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia.
Tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan
suatu kenikmatan adalah penyakit
yang umum menimpa
jiwa manusia. Karena
itu,
Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan,
mencampakkan budi baik yang telah Anda
tunjukkan.
Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan.
Bahkan, tak usah resah bila mereka sampai memusuhi
Anda dengan sangat
keji
dan membenci Anda sampai mendarah daging,
sebab semua itu mereka
lakukan adalah justru karena Anda telah berbuat baik kepada mereka.
{Dan, mereka tidak mencela
(Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan
Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.}
(QS. At-Taubah:
74)
Coba Anda buka kembali catatan dunia tentang perjalanan hidup ini! Dalam
salah satu babnya diceritakan: syahdan, seorang
ayah telah memelihara anaknya dengan baik. la memberinya makan, pakaian dan minum,
mendidikanya hingga menjadi orang pandai, rela tidak tidur demi anaknya,
rela untuk tidak makan asal anaknya
kenyang, dan bahkan, mau bersusah
payah agar anaknya bahagia. Namun apa
lacur, ketika sudah berkumis
lebat dan kuat tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu
menggonggong kepada orang tuanya. la tak hanya berani menghina,
tetapi juga melecehkan, acuh tak acuh, congkak, dan durhaka terhadap orang
tuanya. Dan semua itu, ia tunjukkan dengan perkataan dan juga tindakan.
Karena itu,
siapa saja yang kebaikannya
diabaikan dan dilecehkan
oleh
orang-orang yang menyalahi fitrahnya, sudah seyogyanya menghadapi
semua itu dengan
kepala dingin.
Dan, ketenangan seperti itu
akan mendatangkan
balasan pahala dari Dzat Yang perbendaharaan-Nya tidak
pernah habis dan sirna.
Ajakan ini bukan untuk menyuruh Anda meninggalkan kebaikan yang telah
Anda
lakukan selama ini, atau agar Anda sama sekali tidak
berbuat baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin agar
Anda
tak goyah dan
terpengaruh sedikitpun oleh kekejian
dan pengingkaran mereka atas semua
kebaikan yang telah Anda perbuat. Dan janganlah Anda pernah
bersedih dengan apa saja yang mereka perbuat.
Berbuatlah kebaikan
hanya demi Allah semata, maka Anda
akan menguasai
keadaan, tak akan pernah terusik oleh kebencian
mereka, dan tidak pernah
merasa terancam oleh perlakuan keji mereka. Anda harus bersyukur kepada Allah karena dapat berbuat
baik ketika orang-orang di sekitar Anda berbuat
jahat. Dan, ketahuilah bahwa tangan di atas itu lebih
baik dari tangan yang di bawah.
{Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu
hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu
dan tidak pula (ucapan) terima kasih.}
(QS. Al-Insan:
9)
Masih banyak orang berakal
yang sering hilang kendali dan menjadi
kacau
pikiranya saat menghadapi
kritikan atau cercaan pedas dari orang-
orang sekitarnya. Terkesan, mereka seolah-olah
belum
pernah mendengar wahyu Ilahi yang menjelaskan dengan gamblang
tentang perilaku golongan
manusia yang selalu mengingkari Allah. Dalam wahyu itu dikatakan:
{Tetapi setelah
Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa
kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah
orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.}
(QS. Yunus:
12)
Anda tak
perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena
kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk
menulis cemoohan kepada Anda. Dan Anda tak usab kaget, bila orang yang Anda beri tongkat untuk menggiring
domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke
kepala Anda. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu
mengingkari dan tak pernah bersyukur
kepada Penciptanya sendiri
Yang
Maha Agung nan Mulia. Begitulah, kepada
Tuhannya saja mereka
berani membangkang dan mengingkari, maka apalagi kepada saya dan Anda.
Berbuat Baik Terhadap Orang Lain,
Melapangkan Dada
Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan
kebaikan sebaik rasanya.
Orang-orang
yang pertama kali
akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya.
Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak,
dan
nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu
lapang dada, tenang,
tenteram dan damai.
Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia,
niscaya Anda akan mendapatkan
ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang
yang papa, tolonglah
orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang
yang menderita, berilah makan or• ang yang kelaparan,
jenguklah orang
yang
sakit, dan bantulah orang
yang terkena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan
dalam
semua sisi kehidupan
Anda!
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan
manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dan
manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.
Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan
sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang
berbunyi, "...
meski engkau hanya menemui
saudaramu dengan wajah
berseri." (Al-Hadits)
Sedang kemuraman wajah merupakan
tanda
permusuhan sengit
terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya
oleh Sang Maha Gaib.
Seteguk air yang
diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang
kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit
dan bumi. Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai
kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Wahai orang-orang
yang merasa terancam
oleh himpitan kesengsaraan,
kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman
kebajikan, sibukkan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong,
dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan
mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna,
dan juga hakekatnya.
{Padahal tidak ada seorang
pun memberikan suatu nikmat kepadanya
yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat
kepuasan.}
(QS. Al-Lail: 19-21)
Isi Waktu Luang Dengan Berbuat!
Orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini, biasanya
akan menjadi penebar isu dan desas desus yang tak bermanfaat. Itu karena akal pikiran mereka selalu melayangdayang tak tahu arah. Dan,
{Mereka
rela berada bersama
orang-orang yang tidak pergi berperang.}
(QS. At-Taubah:
87)
Saat paling berbahaya bagi
akal adalah
manakal a
pemiliknya menganggur
dan
tak berbuat apa-apa.
Orang seperti itu, ibarat mobil yang
berjalan dengan kecepatan
tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng ke kanan
dan
ke kiri.
Bila pada suatu hari Anda mendapatkan
diri Anda menganggur
tanpa kegiatan, bersiaplah
untuk bersedih, gundah, dan cemas! Sebab, dalam
keadaan kosong itulah pikiran Anda akan menerawang
ke mana-mana; mulai dari mengingat kegelapan
masa
lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa
depan yang belum tentu Anda alami. Dan itu, membuat akal pikiran Anda tak terkendali dan mudah lepas kontrol.
Maka
dari itu, saya nasehatkan kepada Anda dan diriku sendiri bahwa
mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat adalah lebih baik daripada
terlarut dalam kekosongan
yang
membinasakan. Singkatnya, membiarkan
diri dalam kekosongan itu sama halnya
dengan bunuh diri dan merusak
tubuh dengan narkoba.
Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara Cina;
meletakkan si narapidana di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air
satu tetes
setiap menit
selama bertahun-tahun .
Dan dalam
masa penantian yang panjang itulah, biasanya seorang
napi
akan menjadi stres dan gila.
Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah
pencuri yang culas. Adapun akal Anda, tak lain merupakan mangsa
empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya
terkaman kedua hal tadi; kelengahan
dan
si "pencuri".
Karena itu bangkitlah
sekarang juga. Kerjakan shalat,
baca buku, bertasbih,
mengkaji, menulis, merapikan meja kerja, merapikan kamar, atau
berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi
orang lain
untuk mengusir
kekosongan itu! Ini, karena aku ingin mengingatkan Anda agar tidak
berhenti sejenak pun dari melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Bunuhlah setiap waktu kosong dengan 'pisau'
kesibukan! Dengan
cara
itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin
bahwa
Anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan, dan para
kuli
bangunan! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung
di alam bebas. Mereka tidak seperti Anda yang tidur di atas
ranjang empuk, tetap i selalu
gelisah dan
menyeka air
mat a kesedihan.
Jangan Latah!
Yakni, jangan mudah mengenakan dan meniru-meniru ciri kepribadian
umat
lain. Karena, itu akan menjadi petaka yang tak mudah reda bagimu.
Orang-orang yang lupa dengan dirinya sendiri,
suaranya, gerakan tubuhnya,
ucapannya, kemampuannya, dan kondisinya sendiri,
kebanyakan
akan meniru-niru budaya bangsa lain. Dan itulah yang disebut dengan latah,
mengada-ada, berpura-pura, dan membunuh paksa bentuk dan wujud dirinya sendiri.
Sejak zaman Nabi Adam hingga makhluk terakhir ciptaan
Allah, tak pernah ada dua orang yang sama persis rupanya.
Maka, mengapa masih ada
orang-oran
g yang memaksa
diri untu k menyamaka n perilaku
da n kepribadiannya dengan bangsa lain?
Anda merupakan
sesuatu yang lain daripada yang lain. Tak
ada seorang
pun
yang menyerupai Anda dalam catatan
sejarah kehidupan ini. Belum
pernah ada seorang pun yang diciptakan
sama dengan Anda, dan tidak
akan
pernah ada orang yang akan serupa dengan Anda di kemudian hari.
Anda sama sekali berbeda dari Zaid dan Amr. Karenanya, jangan
memaksakan diri untuk berbuat latah dan meniru-niru kepribadian
orang lain!
Tetaplah berpijak
dan berjalan pada kondisi dan karakter
Anda sendiri.
{Sungguh, tiap-tiap suku telah mengetahui tempat
minumnya (masing-masing).}
(QS. Al-Baqarah: 60)
{Dan, bagi
tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka, berlomba-hmbalah kamu (dalam berbuat)
kebaikan.}
(QS. Al-Baqarah: 148)
Hiduplah sebagaimana Anda diciptakan; jangan mengubah suara,
menganti intonasinya, dan jangan pula
merubah cara berjalan
Anda! Tuntunlah diri Anda dengan wahyu Ilahi, tetapi
juga
jangan melupakan kondisi Anda dan membunuh kemerdekaan Anda sendiri.
Anda memiliki corak dan warna tersendiri.
Dan kami menginginkan
agar Anda tetap seperti
itu;
dengan corak dan warna Anda sendiri.
Sebab Anda memang diciptakan
demikian adanya. Kami mengenal Anda seperti
itu,
maka jangan pernah latah dengan meniru-niru orang lain.
Umat manusia — dengan pelbagai
macam tabiat dan wataknya
— seperti alam tumbuhan:
ada yang manis
dan asam, dan ada yang panjang dan pendek. Dan seperti itulah seharusnya umat
manusia. Jika Anda seperti pisang, Anda tak perlu mengubah diri menjadi jambu, sebab harga dan keindahan Anda akan tampak jika Anda menjadi pisang.
Begitulah, sesungguhnya
perbedaa n
warna kulit,
bahasa, da n kemampuan kita masing-masing merupakan tanda-tanda kebesaran Sang
Maha
Pencipta. Karena
itu,
jangan sekali-kali mengingkari tanda-tanda
kebesaran-Nya.
Qadha' dan Qadar
{Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan dia telah tertulis dalam
kitab (Lauh
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.}
(QS. Al-Hadid: 22)
Tinta pena telah mengering,
lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan
dan takdir telah ditetapkan.
Maka,
{Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami,
melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami."}
(QS. At-Taubah:
51)
Apa yang membuat
Anda benar, maka tak akan membuat Anda salah. Sebaliknya, apa yang membuat Anda salah, maka tidak akan membuat Anda
benar.
Jika keyakinan
tersebut tertanam kuat pada jiwa Anda dan kukuh bersemayam
dalam
hati Anda, maka setiap bencana akan menjadi karunia,
setiap ujian menjadi anugerah, dan setiap peristiwa
menjadi penghargaan dan pahala.
"Barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi
baik maka ia akan diuji oleh-Nya." (Al Hadits)
Karena itu, jangan pernah
merasa gundah dan bersedih dikarenakan
suatu
penyakit, kematian
yang semakin dekat, kerugian harta, atau rumah
terbakar. Betapapun, sesungguhnya Sang Maha Pencipta telah menentukan
segala sesuatunya dan takdir telah
bicara. Usaha dan upaya dapat
sedemikian rupa, tetapi hak untuk menentukan
tetap mutlak milik Al• lah. Pahala telah tercapai, dan
dosa
sudah terhapus. Maka, berbahagialah
orang-orang yang tertimpa musibah atas kesabaran
dan kerelaan mereka terhadap
Yang Maha Mengambil, Maha Pemberi, Maha Mengekang lagi
Maha
Lapang.
{Dia tidak
ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan
ditanyai.}
(QS. Al-Anbiya:
23)
Syaraf-syaraf Anda akan tetap tegang,
kegundahan jiwa Anda tak akan reda, dan kecemasan di dada Anda tak akan pernah sirna, sebelum
Anda benar-benar beriman terhadap
qadha' dan qadar.
Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan
Anda
temui. Maka, jangan biarkan diri Anda larut kesedihan.
Jangan mengira diri Anda sanggup melakukan
segala upaya untuk menahan tembok
yang akan runtuh, membendung
air yang akan meluap, menahan angin agar tak
bertiup, atau memelihara kaca agar tak pecah. Adalah tak benar bila semua
itu
dapat terjadi dengan paksaanku dan paksaanmu,
karena apa yang telah digariskan akan terjadi. Setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan
akan
terlaksana. Demikianlah "orang bebas memilih; boleh percaya dan tidak"
Anda harus menyerahkan semua hal kepada takdir agar tak ditindas
oleh bala tentara kebencian, penyesalan dan kebinasaan. Dan, percayalah dengan kebenaran
qadha' sebelum Anda dilanda banjir penyesalan! Dengan
begitu, jiwa Anda akan tetap tenang menjalani
segala daya upaya dan cara
yang memang harus ditempuh. Dan bila kemudian terjadi
hal-hal yang tidak Anda inginkan, maka itu pun merupakan
bagian dari ketentuan yang memang
harus
terjadi. Jangan pula pernah berandai, "Seandainya saja aku melakukan
seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya." Tapi katakanlah, "Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan." (Al-Hadits)
Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Wahai manusia,
setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan,
setelah begadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada
kesembuhan. Setiap yang
hilang pasti ketemu, dalam
kesesatan akan datang
petunjuk, dalam kesulitan
ada kemudahan, dan setiap
kegelapan akan terang benderang.
{Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya)
atau sesuatu keputusan
dari sisi-Nya.}
(QS. Al-Maidah:
52)
Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti
datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Kabarkan juga kepada orang yang dilanda kesusahan
bahwa, pertolongan akan datang secepat kelebatan cahaya-dan
kedipan mata. Kabarkan
juga kepada orang yang
ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan
segera tiba.
Saat Anda melihat hamparan padang sahara
yang
seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah
bahwa di balik kejauhan itu terdapat
kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan.
Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa,
tali
itu akan segera putus.
Setiap tangisan akan berujung
dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan
akan sirna oleh kedamaian.
Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu,
karena pertolongan Ilahi membuka "jendela" seraya berkata:
{Hai api menjadi
dinginlah dan menjadi
keselamatanlah bagi Ibrahim.}
(QS. Al-Anbiya':
69)
Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). Itu, tak lain karena suara agung kala itu telah bertitah,
{Sekali-kali tidak akan tersusul.
Sesungguhnya, Rabb-ku besertaku, kelak Dia akan memberi
petunjuk kepadaku.}
(QS. Asy-Syu'ara:: 62)
Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi
Muhammad s.a.w. yang ma'shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga, rasa aman, tenteram dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar.
Mereka yang terpaku pada waktu yang terbatas dan
pada
kondisi yang (mungkin)
sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan,
kesengsaraan, dan keputusasaan
dalam
hidup mereka. Itu, karena mereka
hanya menatap dinding-dinding
kamar
dan pintu-pintu rumah mereka.
Padahal, mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar
rumahnya.
Maka dari itu, jangan
pernah merasa terhimpit
sejengkalpun, karena
setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti
kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir,
tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang
silih berganti. Meski demikian,
yang gaib akan tetap tersembunyi, dan
Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan
segala
sifat-Nya. Dan Allah
mungkin akan menciptakan sesuatu
yang
baru setelah itu semua. Tetapi
sesungguhnya, setelah kesulitan
itu tetap akan muncul kemudahan.
Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis!
Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk
dan
berlipat ganda.
Ketika Rasulullah
s.a.w. diusir dari Makkah, beliau
memutuskan untuk
menetap di Madinah dan
kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.
Ahmad ibn Hanbal
pernah dipenjara
dan dihukum dera, tetapi
karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu
Taimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak
melahirkan karya. As-Sarakhsi
pernah dikurung di dasar sumur selama
bertahun-tahun , tetapi
di tempat
itulah ia berhasil mengarang buku
sebanyak dua puluh
jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat
dari jabatannya, ia
berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul
Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits. Demikian halnya
dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu
ia menguasai
qiraah sab'ah. Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu
penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan
syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Lalu, ketika semua anak
Abi
Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan
nyanyian- nyanyian puitis yang mampu membekam
mulut
zaman, membuat setiap
pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan
saat
mendengarnya kembali.
Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang
paling terang darinya.
Ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon,
Anda
perlu menambah sesendok
gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah
seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan
bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa
sengatan itu sebenarnya
memberikan kekebalan pada
tubuh Anda
dari bahaya bisa ular.
Kendalikan diri Anda dalam
berbagai kesulitan yang Anda hadapi!
Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan
bunga
mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan,
{Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal
ia amat baik bagimu.}
(QS. Al-Baqarah:
216)